Takut Kepada Allah SWT

Takut Kepada Allah

Berkenaaan dengan rasa takut kepada Allah SWT, perlu saya kemukakan poin berikut: mungkin, bagi sebagian orang timbul pertanyaan di dalam dirinya, apa yang dimaksud dengan takut kepada Allah SWT? Apakah Allah SWT sesuatu yang menakutkan? Padahal, Allah SWT adalah kesempurnaan mutlak dan sesuatu yang paling abnyak dicintai oleh manusia, lalu mengapa manusia harus takut kepada Allah SWT?

Dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, kita mengatakan bahwa memang demikian adanya. Yaaitu, bahwa Dzat Allah SWT tidak menyebabkan dan tidak mendatangkan rasa takut. Adapun ketika mereka mengatakan bahwa kita harus takut kepada Allah SWT, maka yang dimaksud ialah kita harus takut kepada hokum keadilan Ilahi.

Di dalam do’a disebutkan, “Wahai Dzat yang tidak diharapkan dari-Nya kecuali keadilan-Nya”. Demikian juga dalam do’a disebutkan, Mahasuci Engkau dari untuk ditakuti kecuali keadilan-Mu dan dari untuk diharapkan kecuali karunia dan kebaikan-Mu. Keadilan itu sendiri pada gilirannya bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Manusia yang takut kepada keadilan pada hakikatnya takut kepada dirinya, karena telah melkukan kesalahan – kesalahan pada masa yang lalu, atau dia merasa takut pada masa yang akan datang karena melanggar hak – hak oran lain. Oleh karena itu, dalam masalah takut dan pengaharapan (khauf dan raja), seorang Muslim harus menjadi orang yang senantiasa berpengaharapan dan takut, dan menjadi orang yang menjadi senantiasa berpikir positif dan sedih.

Maksudnya, seorang Muslim harus senantiasa takut dan khawatir terhadap pembangkangan hawa nafsunya dan kecenderungan jahat dirinya, supaya kendali urusan tidak terlepas dari genggaman akal dan iman; dan pada saat yang sama dia senantiasa bersandar, merasa yakin, dan berpengaharapn kepada Allah SWT, dan itu ditunjukkan dengan senantiasa memohon pertolongan dari-Nya.

Imam Ali bin Husain didalam doa Abu Hamzah ats Tsumali yang terkenal mengatakan,”junjunganku, setiap kali aku melihat kesalahan – kesalahanku maka rasa takut dan khawatir menyelimuti diriku, namun setiap kali aku melihat kedermawanan-Mu maka aku menemukan pengharapan”. Inilah poin yang saya kira penting untuk disampaikan.

Wallahu ‘alam…

Sumber: Muthahharah, Murtadha. 1999. Ceramah – ceramah seputar persoalan pentig agama dan kehidupan. Jakarta: Lentera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s